part one : srkd - Bahagia

part one :
Suatu Renungan Ke Depan
B A H A G I A
Ini hanyalah sebuah abstrak yang mungkin usang dan basi, tapi memang benar-benar nyata ada dalam kehidupan kita sehari-hari. Disini, penulis tidak bermaksud untuk menggurui Anda bahkan mempengaruhi pendapat Anda. Pada kesempatan yang baik ini, tujuan penulis semata-mata hanya untuk sharing dengan Anda. Sekiranya apa yang akan penulis sampaikan bisa memberikan kontribusi positif buat Anda. Bagaimana?
Sejenak Anda boleh menghilangkan kerut-kerut di kening Anda serta biarkan lepas dan bebas. Lupakan sejenak semua beban dan problema yang Anda hadapi sekarang ini. Biarkan hati dan jiwa Anda mengikuti keinginan Anda sekarang ini.
KELUARGA. Bukankah itu merupakan bagian yang terpenting dalam hidup kita? Idealnya seorang bapak, ibu, dan kehadiran anak-anak buah hati Anda. Alangkah indahnya memiliki keluarga yang sakinah? Itulah yang sering orang-orang bicarakan dan sudah tentu harapan semua orang, bahkan anak kecil pun berhak memimpikan mempunyai keluarga yang ideal. Itu adalah hal yang human dan common?
Tapi pernahkah Anda membayangkan indahnya warna-warni kehidupan ini bahkan pahitnya hidup? Penulis tidak bermaksud menyampaikan hal-hal yang hiperbola?
Kita tentunya sering mendengar aneka peristiwa berita yang terjadi dalam kehidupan kita. Tapi, pernahkah Anda mencoba untuk merasa diposisikan seperti itu? Seandainya Tuhan memberikan cobaan itu kepada Anda? Kira-kira apa yang akan Anda lakukan sebaik mereka yang sering dibicarakan dalam news report tersebut?
Sementara, tukang sayur tidak ketinggalan unjuk cerita. Sepasang suami istri itu tampak asyik berjualan di pasar itu. Saat itu, matahari sudah tepat di atas kepala. Keempat anaknya yang masih memakai seragam sekolah yang warnanya sudah berubah kuning dan luntur, tampak menghampiri bapak ibunya. Hari sudah siang, anak-anak itu membereskan barang dagangan itu dengan suka cita dan hal yang menyenangkan bagi mereka adalah bersama-sama ikut menghitung uang hasil jerih payah kedua orang tuanya. “ Hari ini emak cuma dapet dua puluh ribu…”Yo, wis. Ayo pulang..pulang nanti emak buatkan sambel tempe ya..?
Mari sekarang kita mencoba berada ke abstrak lain. Kebetulan, sore itu seorang kawan lama telfon penulis dan kita janjian untuk ketemu di salah satu restaurant junk food yang ada di etalase pertokoan Sarinah, Jakarta. Menurut kacamata saya, dia anak salah satu pejabat eselon I dan ibunya seorang carrier women dan pemerhati sosial terkenal di ibukota. Penulis pernah singgah di rumah mewah di kawasan Pondok Indah, pemukiman elite. Begitu orang-orang menyebutnya. Saat itu, ia masih kuliah di Amerika dan sedang summer vacation holiday di Indonesia. Kemana pun dia pergi, sopir setia pasti akan mengantarnya. Alangkah enaknya melintas di sepanjang jalan Jakarta dengan kenyamanan mobil mercy hitam itu?
“ Hallo? How are You? Long Time No See ya, Bo?...Sederetan kata-kata meluncur dari bibirnya yang mungil. Kami ngobrol macem-macem hingga akhirnya ia “ Gue, BT dan BORING dengan kehidupan gue sekarang ini. Now, I’m pregnant….” Ia pun meneteskan air matanya dan sesaat terburu-buru menyalakan sebatang rokok. Saat itu, di asbak kecil itu mungkin ada sekitar setengah lusin rokok yang telah di hisapnya. “Lue tau si Adi kan? Gue cinta mati ama dia. Tapi, bokap nyokap gue malah buang gue ke Amrik. Is that a good solution for me, isn’t it? NO!! Dua tahun pertama, gue dilarang balik ke
Ternyata, kebahagiaan tidak bisa di ukur dengan materi/ uang saja meski tidak lepas dari urgent-nya arti uang itu. Kebahagiaan itu suatu kamuflase yang sifatnya sangat gamang sekali bahkan samar. Hanya Anda sendiri yang bisa mengartikan apa arti BAHAGIA itu. Setidaknya berbanggalah hati Anda yang bisa menikmati warna-warni dan pahit getirnya kehidupan ini.
Komentar
Posting Komentar