part one : srkd - Bahagia


June, 7th 2010
part one :
Suatu Renungan Ke Depan

B A H A G I A




Ini hanyalah sebuah abstrak yang mungkin usang dan basi, tapi memang benar-benar nyata ada dalam kehidupan kita sehari-hari. Disini, penulis tidak bermaksud untuk menggurui Anda bahkan mempengaruhi pendapat Anda. Pada kesempatan yang baik ini, tujuan penulis semata-mata hanya untuk sharing dengan Anda. Sekiranya apa yang akan penulis sampaikan bisa memberikan kontribusi positif buat Anda. Bagaimana?


Sejenak Anda boleh menghilangkan kerut-kerut di kening Anda serta biarkan lepas dan bebas. Lupakan sejenak semua beban dan problema yang Anda hadapi sekarang ini. Biarkan hati dan jiwa Anda mengikuti keinginan Anda sekarang ini.

KELUARGA. Bukankah itu merupakan bagian yang terpenting dalam hidup kita? Idealnya seorang bapak, ibu, dan kehadiran anak-anak buah hati Anda. Alangkah indahnya memiliki keluarga yang sakinah? Itulah yang sering orang-orang bicarakan dan sudah tentu harapan semua orang, bahkan anak kecil pun berhak memimpikan mempunyai keluarga yang ideal. Itu adalah hal yang human dan common?


Tapi pernahkah Anda membayangkan indahnya warna-warni kehidupan ini bahkan pahitnya hidup? Penulis tidak bermaksud menyampaikan hal-hal yang hiperbola?

Kita tentunya sering mendengar aneka peristiwa berita yang terjadi dalam kehidupan kita. Tapi, pernahkah Anda mencoba untuk merasa diposisikan seperti itu? Seandainya Tuhan memberikan cobaan itu kepada Anda? Kira-kira apa yang akan Anda lakukan sebaik mereka yang sering dibicarakan dalam news report tersebut?


Selayang pandang, penulis akan membawa Anda di suatu pemukiman kumuh di salah satu keindahan alam Jakarta. Ya, keadaan pagi itu sangat crowded, para orang tua dan anak-anak kecil tampak sibuk menurut versi mereka ( ada saja yang mereka lakukan ) sementara para ibu sibuk mencuci di kali yang kotor dan sarat air limbah hitam dan pekat, ada juga yang memandikan anaknya, memasak dan macam-macamlah. Sungguh, suatu pemandangan yang ironis dan menyedihkan bagi orang yang melihatnya. Disaat kemajuan teknologi dan INDONESIA telah menjadi suatu Negara kaya bagi mereka2 yang telah merasakan keindahan alam ciptaan Tuhan ini. Meskipun, saat ini rangking Indonesia tetap nomor satu untuk hutang, korupsi, polusi, kemiskinan, sportifitas dan banyak masalah lain yang sering tidak kita sadari. Saat itu, penulis sempat melihat keakraban seorang pemulung yang menemukan sepasang sepatu butut untuk buah hatinya. Mereka tampak asyik bercengkrama, penulis yakin setiap orang pasti iri melihat kedekatan ikatan batin di antara mereka. “ Nak, bapak cuman bisa memberimu ini…dan bapak pikir sepatu ini lebih baik dari sepatumu sekarang. Coba di pakai, Nak!!” Si anak senangnya bukan main dan ia menari-nari sampai terjatuh, lalu ia mengulangi lagi gerakan itu. Si bapak tertawa lepas seolah melupakan keadaan pahit yang sedang menghimpit hidupnya.


Kemudian, tampak seorang tukang semir sepatu tua sedang asyik berjalan dengan tongkat kebangsaannya. Ya, pria tua itu buta dan tampak lusuh dengan seragamnya. Ia tidak lelah sedikit pun berjalan menyusuri koridor itu. Sesaat ia duduk di pojok lorong itu dan mengeluarkan bekal makanannya. Ia tampak lahap memakan bekal buatan istri tercinta.


Sementara, tukang sayur tidak ketinggalan unjuk cerita. Sepasang suami istri itu tampak asyik berjualan di pasar itu. Saat itu, matahari sudah tepat di atas kepala. Keempat anaknya yang masih memakai seragam sekolah yang warnanya sudah berubah kuning dan luntur, tampak menghampiri bapak ibunya. Hari sudah siang, anak-anak itu membereskan barang dagangan itu dengan suka cita dan hal yang menyenangkan bagi mereka adalah bersama-sama ikut menghitung uang hasil jerih payah kedua orang tuanya. “ Hari ini emak cuma dapet dua puluh ribu…”Yo, wis. Ayo pulang..pulang nanti emak buatkan sambel tempe ya..?


Mari sekarang kita mencoba berada ke abstrak lain. Kebetulan, sore itu seorang kawan lama telfon penulis dan kita janjian untuk ketemu di salah satu restaurant junk food yang ada di etalase pertokoan Sarinah, Jakarta. Menurut kacamata saya, dia anak salah satu pejabat eselon I dan ibunya seorang carrier women dan pemerhati sosial terkenal di ibukota. Penulis pernah singgah di rumah mewah di kawasan Pondok Indah, pemukiman elite. Begitu orang-orang menyebutnya. Saat itu, ia masih kuliah di Amerika dan sedang summer vacation holiday di Indonesia. Kemana pun dia pergi, sopir setia pasti akan mengantarnya. Alangkah enaknya melintas di sepanjang jalan Jakarta dengan kenyamanan mobil mercy hitam itu?


“ Hallo? How are You? Long Time No See ya, Bo?...Sederetan kata-kata meluncur dari bibirnya yang mungil. Kami ngobrol macem-macem hingga akhirnya ia “ Gue, BT dan BORING dengan kehidupan gue sekarang ini. Now, I’m pregnant….” Ia pun meneteskan air matanya dan sesaat terburu-buru menyalakan sebatang rokok. Saat itu, di asbak kecil itu mungkin ada sekitar setengah lusin rokok yang telah di hisapnya. “Lue tau si Adi kan? Gue cinta mati ama dia. Tapi, bokap nyokap gue malah buang gue ke Amrik. Is that a good solution for me, isn’t it? NO!! Dua tahun pertama, gue dilarang balik ke Indonesia. Until, when I met him, it was happened…Tapi, jujur gue bahagia sekarang ini dan ini satu-satunya cara agar gue bisa deket dengan Adi…” Dan kembali ia meneteskan air matanya.


“ Masalahnya klasik, status ekonomi, status silsilah apa lah..bibit bebet bobot. That’s the problem. He’s not my parent’s want to..But, You have to know it’s depend of your heart, it won’t never tell lies, don’t you?? Now, Adi’s working at the construction company and next month he’ll ask permission to my parent’s about our wedding-Day planning!! Isn’t so fast? Yah, but I have to decide my choice for our future and I believe we can through our live together…So, please pray me, yah !!” Saat itu, penulis hanya bengong dan tidak bisa berkata apa pun kepadanya. Secepat itu kah baru satu bulan yang lalu, Ia kembali dari Amrik?? Kemudian, Ia akan memutuskan married dengan Adi, teman SMU kami.


Ternyata, kebahagiaan tidak bisa di ukur dengan materi/ uang saja meski tidak lepas dari urgent-nya arti uang itu. Kebahagiaan itu suatu kamuflase yang sifatnya sangat gamang sekali bahkan samar. Hanya Anda sendiri yang bisa mengartikan apa arti BAHAGIA itu. Setidaknya berbanggalah hati Anda yang bisa menikmati warna-warni dan pahit getirnya kehidupan ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

part four : srkd - Memilih atau Di pilih

At the First Sight

part eight : srkd - Reason, Season and Life time