part three : srkd - Politik Di Atas Awan


June, 7th 2010
part three :
Suatu Renungan Ke Depan

POLITIK DI ATAS AWAN


Jangan berpikir terlalu serius dulu dengan judul uraian saya di atas. Saat ini yang terlintas dalam benak saya itu saja. Apa kaitannya kata “Politik” dengan “Awan”, ah tapi jujur saya tidak mau mengerutkan kening membaca judul ini.


Sekarang mari kita bayangkan ketika kita lahir di muka bumi, apa yang kita bawa selain tangisan panjang tak henti-henti. Bahkan kita pribadi sering terganggu dengan tangisan berisik para bayi. Saya sering melihat pemandangan manusia mendeskriminasi kan para bayi. Coba Anda diposisikan sebagai seorang ibu dari bayi tersebut, apa Anda tidak kesal ketika bayi Anda menangis dan orang-orang di sekitar Anda menggerutu kesal dengan tangisan bayi Anda. Maaf jika Anda tersinggung, tapi kejadian seperti itu hal yang biasa kita lihat sehari-hari. Tapi, contoh di atas salah satu politik bayi lho. Anda tidak percaya? Bayi menangis sengaja untuk meminta perhatian sang bunda karena dia ingin minum susu, sementara sedari tadi sang ibu sibuk dengan dirinya sendiri. Jadi dari kecil kita sudah belajar politik tanpa harus bisa membaca dan menulis.


Tapi, apakah ilmu para politikus di negeri tercinta ini sudah sehebat dengan para professor yang sering memberi lecture ilmu politik di depan para mahsiswanya. Apakah sama ilmu buku dan ilmu praktek para politikus senayan dan para politikus amatir? Pastinya, politik bebas tak terbatas, siapapun mau tak mau akan menggunakan jurus-jurus politik mereka dalam kehidupan sehari-hari. Karena mereka awam dan takut jika mendengar kata politik, jadi diam saja. Padahal, mereka tidak tahu kalo dengan bersikap diam juga masuk dalam ilmu politik.


Pokoknya tidak kalah dengan mahasiswa jurusan politik atau politikus senayan. Jadi berbangga hatilah Anda dengan ilmu politik yang Anda miliki tanpa harus sekolah tinggi. Yah, ilmu politik hidup Anda. Saya yakin Anda juga pasti sudah bisa membuat catalog atau list cara menyelesaikan politik dalam hidup Anda.


Illustrasi lain, mungkin contoh ini lebih dekat lagi. Mari kita bayangkan Anda sebagai pencari kerja [ job seeker ], Anda seorang sarjana dan minim pengalaman kerja karena Anda adalah fresh graduate student [ baru lulus dari kampus ], sekarang Anda sedang berjalan menyusuri koridor jalan Sudirman Thamrin di Jakarta, naik turun bis lalu menyeberang jembatan dan jalan lagi. Setelah, menemukan gedung yang di tuju, Anda harus melapor dan meninggalkan kartu identitas Anda. Barulah, bapak security gedung mempersilahkan Anda menuju lift dan akhirnya Anda menemukan alamat lowongan kerja yang pas dengan info lowongan koran ibukota. Saat itu, senang sekali hati Anda di saat petugas receptionist mempersilahkan Anda menunggu bapak manager kantor perusahaan asing yang cukup bonafide di ibukota negeri tercinta ini. Wah, bayangan Anda sudah pasti enak dan nyaman kalau di trima bekerja disini. Pasti gaji besar, fasilitas lengkap, tunjangan ok, kondisi kantor nyaman tanpa harus berkeringat peluh untuk mendapatkan rizki seperti para tukang becak di luar sana. Singkat kata, Anda di trima setelah perjuangan tes macam-macam. “ wah, selamat yah, Bo…”, “ ah, loe emang dari dulu slalu hebat. Duch, gue iri banget sama loe, Nek.. Gaji loe Dollar ato Yen nech…”, Begitulah sapaan telefon genggam Anda ketika berdering dari teman dekat, keluarga, orang terdekat Anda bahkan orang tak di kenal yang kebetulan bertemu dengan Anda dan menanyakan keadaan Anda, semuanya mengucapkan selamat atas keberhasilan Anda.


Begitulah sang waktu terus berlari kencang, sama halnya dengan kehidupan baru Anda seakan tak kenal hati dan rasa, mengharuskan Anda berlari kencang seiring dengan sang waktu. Proses pergulatan hati dan riak kecil besar seolah tak cukup menggambarkan perjuangan di babak kedua setelah lolos dari audisi pertama. Bisa Anda bayangkan bagaimana berat dan stres beban kerja yang Anda tanggung.


Yah, masalah demi masalah datang. Anda terbentur, terpeleset dan sering jatuh. Tapi, tidak ada yang mengulurkan tangan untuk membantu Anda saat itu. Saya jadi teringat kata-kata ini “ Fitnah lebih kejam dari pembunuhan “, wah apa hubungannya dengan “Politik” yah? Inilah politik yang berlaku di rimba kantor itu. Jika Anda tidak bisa mengikuti ritme kerja penghuni lama maka hukum rimba yang berlaku, Anda terjatuh dan terbuang. Meskipun Anda sudah total bekerja untuk mereka, Tapi, Anda harus trima satu rumus baru dalam dunia kerja “ Like and Dislike ”, kerennya adalah faktor “ Suka ” and “ Gak Suka ”. Apalagi, jika kehadiran Anda di anggap sebagai duri dalam kehidupan para penghuni lama di tempat kerja Anda.


Singkat cerita, Anda terbuang meskipun baru dalam hitungan bulan Anda bekerja di sana. Apakah saat itu Anda sedang berada di atas awan? Atau bahkan jatuh terhempas dari awan? Tergantung Anda melihat dan mengkompromikan rasio dan kata hati Anda.


Meskipun politik bisa di lihat dari berbagai segi, tapi sejatinya politik paling dekat dengan kekuasaan. Apalagi di zaman sekarang, orang tidak segan-segan menghalalkan segala cara untuk kata kekuasaan itu. Saya jadi ingat “ Kekuasaan paling dekat dengan kemapanan dan hanya orang bodoh yang mau hidup susah ”.


Dahulu saja, ketika zaman raja dan ratu, mereka tidak segan-segan mengibarkan bendera kekuasaan ke berbagai pelosok negeri tercinta kita. Tercatat beberapa kerajaan yang sampai sekarang harum namanya, salah satunya kerajaan Majapahit. Perang sampai mati atau fitnah atau apa lah, mereka akan lakukan demi kekuasaan. Jadi wajar saja kita sebagai anak cucu mereka mewarisi budaya ini. Terpikirkankah oleh Anda bagaimana mereka mendapatkan kekuasaan itu? Pastinya, banyak cara dengan jurus-jurus politik mereka.


Sekarang, saya kembalikan kepada Anda lagi bagaimana Anda menerjemahkan politik yang setiap hari harus Anda lakoni. Jujur, tiap orang punya pandangan yang berbeda. Karena saya tidak mau membahas secara bahasa kamus atau apalah. Jadi, kalo dari kacamata saya, pengertian politik adalah cara untuk mempertahankan hidup. Itu saja. That's it.


Lalu, apakah kita akan terjerat dengan cara-cara haram dalam mempertahankan hidup? Karena kehidupan harus berjalan terus berjalan sampai Yang Maha Kuasa menghentikan nyawa kita, jadi selama itulah kita harus berpolitik. Tentunya, tanpa mengesampingkan nilai, norma, aturan agama yang melekat pada pribadi kita, sejatinya manusia menjalankan hidup dengan prioritas yang membawa mereka semua selamat dunia dan akhirat.

Pencapaian ketauhidan kita terhadap yang menciptakan bumi tempat kita berpijak ini adalah sesungguhnya kenikmatan yang tak terkira di banding apapun embel-embel kita. Posisi di atas awan lah yang harus kita kuatkan dalam batin kita. Semoga kita bisa menggunakan politik dengan sebaik-baiknya, akhirnya kita bisa mencapai posisi di atas awan.

Waalahu allam


Komentar

Postingan populer dari blog ini

part four : srkd - Memilih atau Di pilih

At the First Sight

part eight : srkd - Reason, Season and Life time