part two : srkd - Idealistis versus Realistis


June, 7th 2010
part two:
Suatu Renungan Ke Depan


IDEALISTIS versus REALISTIS



Apa yang terpikir oleh Anda terhadap judul uraian saya kali ini? Silahkan Anda terjemahkan sendiri, saya yakin sekarang Anda bisa membayangkan suatu keadaan dimana Anda di tempatkan pada suatu keadaan yang menuntut Anda untuk memilih harus Idealistis ataukah Realistis.


Mungkin untuk memudahkan Anda memahami ini, saya akan coba terjemahkan dengan bahasa saya, sekali lagi maaf sekali saya tidak membahas secara bahasa kamus, terjemahan harfiah, arti kata atau apalah karena keterbatasan literatur. Menurut kacamata saya, Idealistis adalah suatu keadaan dimana Anda terjerat dalam penggabungan kompromi antara kata hati dan sikap Anda untuk bertindak sesuai keinginan Anda yang menurut pola pikir Anda semuanya sangat ideal dan sangat pas dengan identitas Anda. Sementara, Realistis adalah suatu keadaan dimana Anda terjerat dalam penggabungan kompromi antara kata hati dan sikap Anda untuk menerima apa yang sudah melekat dalam diri Anda dengan sebaik-baiknya.


Sepanjang perjalanan hidup Anda, saya yakin sering kali Anda harus memilih antara keadaan yang menyulitkan jati diri Anda sebagai manusia. Kapan Anda harus bersikap Idealistis dan kapan Anda harus bersikap Realistis. Waallahu allam, hanya Anda yang tahu.


Saya hanya terus berpikir kata tersebut diatas ada kaitannya dengan harga diri atau ke-EGOan kita sebagai manusia yang punya banyak keinginan, harapan, sejatinya Anda dengan nilai dan pandangan hidup yang Anda pegang teguh atau bahasa kerennya “Pride”. Saya yakin sejatinya keberadaan kita sebagai manusia pasti punya Pride yang harus tetap dipegang teguh sampai kapan pun. Kenapa? Ketika Anda sudah tidak mempunyai kedudukan, pangkat, status tertinggi di depan orang-orang bahkan kemewahan atau apalah, saya gak ngerti lagi jika menggambarkan orang-orang yang selalu berpatokan banyak hal yang gak penting buat kamus hidup saya. Bukankah Tuhan akan menilai manusia lewat “TAKWA” mereka, bukan embel-embel yang segunung itu? Mungkin saya terlampau tegas untuk urusan prinsip ini, maaf jika bersinggungan dengan prinsip hidup Anda. Tapi, ketika Anda dihadapkan berstatus sebagai orang miskin, misalnya tukang cuci baju atau tukang sapu jalan atau apa yah perumpamaan untuk menggambarkan Anda dalam keadaan terjepit dan susah, yah… bayangkan sajalah.. Saat itu, Anda di hina atau di permalukan dengan kata-kata yang menyayat hati oleh orang lain, apa yang akan Anda lakukan jika tidak kembali kepada Harga Diri atau Pride? Yah, hanya itu yang Anda miliki untuk mempertahankan ke-EGOan dan eksistensi Anda sebagai “seorang manusia” bukan “seekor binatang”, artinya kita diciptakan memiliki rasa, hati, akal yang sejatinya di depan Tuhan kita semua sama. Akhirnya, saya katakan “Harga Diri” sebagai senjata terakhir. Inilah keterkaitannya dengan kata Idealistis yang secara tidak sadar membawa kita kepada suatu pilihan untuk mempertahankan Harga Diri kita ataukah melepaskan Harga Diri kita untuk sesuatu yang tidak kekal. Yah, hidup memang pilihan. Kita ingin menjadi seperti apa?


Saya juga sering bingung apakah para koruptor yang berkeliaran bebas di negeri tercinta kita ini mempunyai Pride ? Ntah-lah, sangat kompleks sekali kalo kita membicarakan Pride, karena sejatinya sangat berkaitan dengan banyak hal yang melekat dalam diri manusia, bagaimanakah latar belakang hidupnya, lingkungan yang membesarkannya, pengaruh budaya, faktor ekonomi yang menggelayuti kehidupannya dan banyak hal sehingga kita tidak bisa seenaknya menghakimi mereka. Tapi, apakah mereka mempunyai hati nurani? Apakah kedudukan, kekuasaan, kemewahan telah menjadi prioritas dalam kamus hidup mereka? Dimana nilai-nilai agama atau nilai-nilai sosial atau harga diri mereka sebagai manusia? Satu lagi, apakah praktek-praktek instant yang mereka lakukan bisa membawa mereka sebagai manusia yang paling tinggi derajatnya di depan Yang Maha Esa? Yah, saya kembalikan kepada Anda.

Saya jadi teringat dengan perkataan banyak orang seperti ini “Jujur, hari gini? ngapain susah-susah Jujur, hidup uda susah jangan di buat susah..” Sementara, orang yang masih mau melakukan Jujur di tengah himpitan keadaan ekonomi negeri tercinta kita, mereka bisa disebut sebagai orang Idealis. Meskipun imbas dari kejujuran ini hidup kita pas-pasan bahkan banyak susahnya dan miskinnya. “ Kenapa mereka mau berbuat jujur padahal kesempatan untuk meraih kekayaan dan kekuasaan tidak datang sekali lho, jeung…” Mendengar pembicaraan ini, saya hanya tertawa meskipun saya tidak tahu siapa yang dimaksud oleh ibu-ibu berseragam dinas yang sedang bergosip di dekat saya. Susah sekali menemukan orang yang masih mempunyai hati nurani dan harga diri dalam sulitnya menjalani hidup di negeri tercinta ini.


“Keinginan adalah sumber penderitaan…” Ah, saya tidak ingat dengan pasti lirik lagu bang Iwan Fals yang pernah saya dengar dari Lap top teman dekat saya. Tapi, itulah godaan hidup. Dan, apakah kita akan terus berusaha mendapatkan keinginan itu? Hati dan otak kita terus melejitkan bendera Idealistis kita, terus terus terus berkibar tanpa ujungnya. Tapi, sekali lagi ketentuan Tuhan yang berbicara lain. Kita punya kehendak tetapi Tuhan yang menentukan. Pada akhirnya, kita dihadapkan pada suatu keadaan yang benar-benar tidak sesuai dengan Idealistis kita, yah kita harus Realistis.


“That’s Life. Sometimes we win, sometimes we lose…” Tapi, berbanggalah hati Anda karena hati nurani Anda telah berjuang mati-matian untuk kata Idealistis, toh pada akhirnya Anda tersandung dan jatuh, sehingga kata Realistis yang akhirnya memenangkan pertandingan hidup Anda. Tidak selamanya, Realistis itu berkonotasi negatif dalam perbendaharaan kamus hidup Anda, Tidak.. Anda termasuk orang hebat yang mempunyai pelajaran hidup yang tidak dimiliki oleh semua orang, saya yakin hati nurani Anda sedang dalam proses peningkatan untuk pencapaian derajat tertinggi di hadapan Yang Maha Esa. Waallahu allam. Hanya Anda dan Tuhan yang tahu. Sekali lagi, ketauhidan Anda sebagai manusia benar-benar akan sempurna jika Anda bisa menerima kata Realistis setelah beratnya perjuangan hidup yang telah Anda lakukan. Percayalah….!!!


Sekarang pilihan ada di tangan Anda. Apakah Anda ingin menjalankan roda hidup dengan berpatokan kata Idealistis ataukah terjerat dengan kata Realistis? Karena kedua kata tersebut bisa mengacu kepada hal_hal positif dan negatif tapi saya kembalikan kepada Anda. Idealistis positif sangat lah bagus untuk memupuk semangat dalam menjalankan hidup. Tapi, akan sangat menyusahkan Anda jika Anda terus berjuang, sementara hasil dan ketentuan Tuhan tidak sangat support dengan kata Idealistis Anda, seyogyanya, sebagai manusia kita juga harus berbesar hati menerima kata Realistis. Sementara, jika kita terus terjerat dengan kata Realistis tanpa berjuang mendapatkan kata Idealistis, sama halnya sejatinya ruh kita tidak menempel dalam badan kita.


Sekali lagi, saya kembalikan kepada Anda yang menjalani hidup ini. Tanpa bermaksud meninggalkan nilai-nilai hidup dan ke-EGO an Anda sebagai manusia, tetaplah bertahan dengan kata Idealistis, bertahan dan berjuanglah untuk itu, karena kita tidak akan pernah tahu andai tidak mencoba, tetapi ketika Anda terhimpit dan jatuh, terimalah dengan besar hati kata Realistis dalam kamus hidup Anda. Karena Tuhan maha tahu dan Dia tidak akan membuat Anda jatuh sekali lagi, terimalah sebagai suatu kemenangan yang tertunda, Hanya Anda dan Tuhan yang tahu. Waallahu allam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

part four : srkd - Memilih atau Di pilih

At the First Sight

part eight : srkd - Reason, Season and Life time